Wednesday, 29 June 2016

Kenapa Kita Tertipu Waktu? Berikut Alasannya

T E R T I P U    W A K T U
Waktu berlalu........
Begitu halus menipu...!
Tadi pagi belum sempat Dzikir pagi, tahu2 sudah jam 9.00 pagi.........?!
Belum sempat sedekah pagi........, Matahari sudah meninggi.........?!

Rencananya pagi ini  mau Shalat Dhuha........., tiba-2  Adzan Dhuhur sudah terdengar.........?! 
Pinginnya setiap pagi menghabiskan baca 1 atau setengah juz Al- Qur'an. Tapi ya itu, " pinginnya itu " sudah setahun yang lalu dan kebiasaan itu belum terlaksana......?!.

Pinginnya lagi tiap waktu Shalat berjama'ah di Masjid, tapi pingin saja.......gak nongol-2 di Masjid.
Sebenarnya ada komitmen pada diri sendiri, tidaklah berlalu malam kecuali dengan tahajud dan witir......., sekalipun hanya 3 rakaat singkat saja......?!
 
Dan komitmen itu belum dilaksanakan sejak 2 tahun lewat......... Tanpa hukuman diri atas pengkhianatan komitmen dan tanpa perasaan bersalah sehingga belum merasa taubat......... ?!

Dulu juga pernah terpikir punya anak asuh, entah yatim entah anak miskin, yang di santuni tiap bulannya.........
 
Ya karena kesibukan lupa merealisasikannya, dan itu sudah berlangsung sekitar 3 tahunan yang lalu...........
Akan terus beginikah nasib "hidup" kita menghabis-habiskan umur.........?! Berhura-hura dengan usia......... ?!
Tiba-2 masuklah usia di angka 30...... sebentar kemudian 40 tahun......dan kini lebih dari 50 tahun........?!
Tak lama terasa kemudian orang memanggil kita dengan sebutan : " Mbah.......Eyang.....Aki..... .Nini........"
Pertanda kita sudah tua........!
 
Uban yang mulai menghias kepala......, keriput yang menghiasi kulit........, tenaga yang tidak seberapa..........?!

Menunggu ajal tiba.......? sejenak mengintip catatan amal yang kita ingat pernah berbuat apa...........?
Astaghfirullah........
 
Tak seberapa, sedekah dan wakaf juga sekedarnya, malah banyakan harta yang kita makan, buat tanah, rumah, usaha dan katanya untuk investasi dan ninggalin anak cucu yang belum tentu mereka suka.........?!
Jika demikian........
 
Apakah ruh tidak akan menjerit saat harus berpisah dari tubuh............?!
Tambahkan usiaku ya Allah...........!
 
Aku butuh waktu untuk beramal dan berbekal..?!
Belum cukupkah main-2mu selama 50 tahun atau 60 tahun.........?
Butuh berapa tahun lagi.........? untuk mengulang pagi, sore, hari, minggu, bulan dan tahun yang sama,tanpa pernah merasa kehilangan untuk menghasilkan pahala di setiap detiknya ?.

Tidak akan pernah cukup 1000 tahun bagi yang terlena.........?
Astaghfirullaah al adziim..

Tuesday, 28 June 2016

Seorang Hakim Cium Tangan Terdakwa, Sebuah Pelajaran Berharga dari Jordania

Hakim Cium Tangan Terdakwa, Sebuah Pelajaran Berharga dari Jordania
Kisahikmah.com

Hakim itu mengejutkan semua orang di ruang sidang. Ia meninggalkan tempat duduknya lalu turun untuk mencium tangan terdakwa.

Terdakwa yang seorang guru SD itu juga terkejut dengan tindakan hakim. Namun sebelum berlarut-larut keterkejutan itu, sang hakim mengatakan, “Inilah hukuman yang kuberikan kepadamu, Guru.”
Rupanya, terdakwa itu adalah gurunya sewaktu SD dan hingga kini ia masih mengajar SD. Ia menjadi terdakwa setelah dilaporkan oleh salah seorang wali murid, gara-gara ia memukul salah seorang siswanya. Ia tak lagi mengenali muridnya itu, namun sang hakim tahu persis bahwa pria tua yang duduk di kursi pesakitan itu adalah gurunya.

Hakim yang dulu menjadi murid dari guru tersebut mengerti benar, pukulan dari guru itu bukanlah kekerasan. Pukulan itu tidak menyebabkan sakit dan tidak melukai. Hanya sebuah pukulan ringan untuk membuat murid-murid mengerti akhlak dan menjadi lebih disiplin. Pukulan seperti itulah yang mengantarnya menjadi hakim seperti sekarang.

Peristiwa yang terjadi di Jordania pada pekan lalu dan dimuat di salah satu surat kabar Malaysia ini sesungguhnya merupakan pelajaran berharga bagi kita semua sebagai orangtua. Meskipun kita tidak tahu persis kejadiannya secara detil, tetapi ada hikmah yang bisa kita petik bersama.

Dulu, saat kita “nakal” atau tidak disiplin, guru biasa menghukum kita. Bahkan mungkin pernah memukul kita. Saat kita mengadu kepada orangtua, mereka lalu menasehati agar kita berubah. Hampir tidak ada orangtua yang menyalahkan guru karena mereka percaya, itu adalah bagian dari proses pendidikan yang harus kita jalani.

Buahnya, kita menjadi mengerti sopan santun, memahami adab, menjadi lebih disiplin. Kita tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang hormat kepada guru dan orangtua.

Lalu saat kita menjadi orangtua di zaman sekarang… tak sedikit berita orangtua melaporkan guru karena telah mencubit atau menghukum anaknya di sekolah. Hingga menjadi sebuah fenomena, seperti dirilis di Kabar Sumatera, guru-guru terkesan membiarkan siswanya. Fungsi mereka tinggal mengajar saja; menyampaikan pelajaran, selesai.

Bukannya tidak mau mendidik muridnya lebih baik, mereka takut dilaporkan oleh walimurid seperti yang dialami teman-temannya. Sudah beberapa guru di Sumatera Selatan dilaporkan walimurid hingga harus berurusan dengan polisi.

Semoga tulisan ini, bagi kita para orangtua atau walimurid, bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan guru. Kita bersinergi untuk menyiapkan sebuah generasi masa depan. Bukan hubungan atas dasar transaksi yang rentan lapor-melaporkan.